Berikut adalah Cara Pembuatan Gula Merah/Gula Jawa

Istilah gula merah biasanya diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira yaitu cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan. Secara umum cara pengambilan cairan ini sebagai berikut :

  1. Bunga mayang yang belum diikat kuat (kadang – kadang dipres dengan 2 batang kayu) pada bagian pangkalnya sehingga proses pemekaran bunga menjadi terhambat. Sari makanan yang seharusnya dipakai untuk pemekaran bunga menumpuk menjadi cairan gula. Mayang membengkak.
  2. Setelah proses pembengkakan berhenti, batang mayang diiris – iris untuk mengeluarkan cairan gula secara bertahap. Cairan biasanya ditampung dengan “timba” yang terbuat dari daun pohon palma tersebut.
  3. Cairan yang ditampung diambil secara bertahap, biasanya 2 – 3 kali. Cairan ini kemudian dipanaskan dengan api sampai kental. Setelah benar – benar kental, cairan dituangkan ke mangkok – mangkok yang terbuat dari daun palma dan siap dipasarkan. Gula merah sebagian besar dipakai sebagai bahan baku kecap manis..

Dipublikasikan ulang dari : http://www.lezatgrup.com

Komentar
  1. rahmat eko purwanto mengatakan:

    kami pengepul gula jawa dari bnyuwangi kami buka harga 8500 harga di tempat.. minat 087761244711

  2. Riadi alias Ai mengatakan:

    Tepung asia apa itu kalo kita beli di pasar namanya mas

  3. Mr. Harsoyo mengatakan:

    Cara Mendaur Ulang Gula Merah yang telah Rusak/BS/Lembek

    Oleh Abdullah

    GULA merah yang telah rusak/lembek/BS (BS-rusak dalam istilah pasar), biasanya tidak laku dijual atau bisa juga menjadi komoditas yang bernilai jual rendah atau murah.
    Untuk menghadapi masalah ini, para pedagang dianjurkan untuk mendaur ulang gula-gula yang BS tadi agar nilai jualnya kembali tinggi. Selain itu, gula yang telah didaur ulang bisa bertahan lebih lama.
    Mendaur ulang gula merah BS, selain dianjurkan para pedagang, bisa juga dimanfaatkan oleh para wiraswastawan yang masih mencari terobosan usaha yang cukup tinggi karena hanya memerlukan teknologi tradisional.

    Alat-alat yang diperlukan:
    1. Potongan ruas bambu yang berukuran 1,5-2 cm sebanyak 1.000 potong. Bambu yang dipotong diusahakan yang masih hijau agar tidak sulit memotongnya. Diameter sekisar 5-7 cm (ukuran kecil-sedang). Fungsinya untuk mencetak gula.
    2. Beberapa lembar kayu tripleks yang tidak terpakai, fungsinya untuk menyimpan cetakan/potong bambu, bisa juga potongan papan.
    3. Entong panjang yang terbuat dari bambu atau kayu untuk mengocek.
    4. Wajan besar yang dapat memuat l.k. 12 kg gula merah.
    5. Tampir (Sunda: Nyiru) untuk menjemur atau memotong gula hasil cetakan. Bisa juga menggunakan sasag/bilik bambu.
    6. Kompor

    Bahan yang diperlukan:
    1. Gula BS/rusak l.k. 12 kg
    2. Gula putih 1/2 kg
    3. Tepung Asia 1/2 kg
    4. Air secukupnya.

    Cara mengolahnya:
    1. Cairkan gula putih ditambah sedikit air, sampai mendidih.
    2. Masukkan gula merah sehingga mencair.
    3. Masukkan tepung sedikit-sedikit sambil diaduk hingga rata.
    4. Sesudah tepung Asia dan gula merah bercampur hingga tidak terlihat warna putih, kecilkan kompornya.
    5. Dengan bantuan scan plastik/kendi kecil, masukkan gula yang masih panas ke dalam cetakan gula yang sebelumnya telah disusun pada lembaran tripleks/kayu papan. Sebaiknya, potongan bambu atau cetakan gula dimasukkan ke dalam air bersih agar gula yang sudah tercetak mudah dicopot/dilepas.
    6. Sesudah semua cairan gula dituangkan pada cetakan gula, siapkan tampir atau sasag.
    7. Sesudah gula yang tercetak dingin, lepaskan dari bambu cetakan dan disusun pada tampir atau sasag.
    8. Perhatikan pada waktu menyusun gula, gula yang basah disimpan di atas dan bagian yang kering di bawah.
    9. Bila hari tidak hujan, gula harus dijemur hingga kering dan harus dikontrol (dibolak-balik).
    10. Bila hari hujan, gula bisa dikeringkan dengan cara menggarang di atas kompor dengan api kecil dengan tinggi 1 m.
    Cara menggarang:
    1. Siapkan tempat untuk menumpuk sasag atau tampir berisi gula yang telah disusun. Usahakan agar tidak terganggu oleh kegiatan lain.
    2. Tempat menumpuk tampir atau sasag diusahakan dibuat terlebih dahulu dengan rangka kayu atau bambu dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 1 m.
    3. Tiap tumpukan hendaknya diganjal pada ujung-ujungnya sehingga gula tidak tertindih.
    4. Agar cepat kering, sebaiknya ditutup dengan kain atau kertas.
    5. Kompor yang disimpan di bawah sasag atau tampir, dinyalakan dengan api yang kecil dengan waktu 2-3 jam. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

    Di copy dari : kliping-pengetahuan.blogspot.com

Tulis Pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s